Apa yang Sebenarnya Orang Lihat Ketika Berbelanja Online?

Ketika Anda mengunjungi laman sebuah website, apa hal pertama yang paling menarik perhatian Anda dan membuat mata Anda terhenti seketika? Apalah logo perusahaan yang besar? Search bar? Ataukah model yang sedang memamerkan paras ayunya?

Sebuah perusahaan software artificial intelligence, EyeQuant, yang menawarkan eye-tracking yang prediktif untuk website, telah melakukan usaha untuk mengetahui apa yang orang lihat ketika pertama kali loading ke suatu halaman.

Perusahaan ini berhasil mengambil kesimpulan dari studi yang mereka lakukan mengenai anggapan dalam aturan konvensional pada desain website bahwa orang cenderung lebih tertarik untuk melihat wajah, adalah tidak selalu benar.

EyeQuant melakukan studi terhadap 46 orang untuk meningkatkan algoritma internalnya dengan jalan memprediksi kemana orang-orang melihat pada situs klien mereka.

Dari studi yang dilakukan terhadap neuroscience lab di universitas Osnabrueck, Jerman, mereka menemukan bahwa orang melihat 200 produk dan landing pages yang sudah mereka inginkan.

Tampilan wajah tidak lebih kuat dari tampilan teks

Artinya, pada dasarnya tampilan wajah tidaklah sekuat yang kita kira. Pandangan konvensional yakin bahwa manusia suka melihat wajah, bahkan termasuk benda mati yang menyerupai wajah orang.

Karenanya, para desainer website cenderung mengarahkan perhatian user ke arah teks yang terletak di pandangan orang atau model yang ada dalam foto tersebut. Mereka berfikir bahwa user tentu ingin melihat apapun yang dilihat sang model tersebut.

Tapi ternyata, studi ini justru menunjukkan bahwa orang cencerung lebih senang melihat teks headline atau search bar dibanding melihat wajah yang mencolok pada halaman website. Apalagi, bila teks tersebut cukup mudah dibaca.

Selain itu, studi juga menunjukkan bahwa ternyata para peserta riset tersebut lebih suka melihat teks yang lebih kecil dibanding teks iklan diskon yang besar. Para sample riset malah tidak melihat pada teks yang besar, bahkan jika teks tersebut mengiklankan diskon.

Sebaliknya, mereka justru melihat pada ukuran teks yang relatif lebih kecil pada suatu halaman.

Sebagai contoh, ketika masuk ke website English Proofread yang merupakan sebuah layanan copyediting, pada user justru mengabaikan nama perusahaan yang cukup besar di bagian kiri halaman. Sementara itu, user ternyata lebih suka melihat subheadline yang lebih kecil.

Manfaatkan juga kata ‘Gratis’

Banyak yang berpendapat bahwa ‘gratis’ adalah kata yang ajaib. Tentunya semua orang senang dengan hal-hal yang gratis bukan?

Pada website yang mengiklankan produk dengan kata ‘gratis’ baik itu adalah hal pengiriman, maka orang-orang akan cenderung melihat deskripsi produk tersebut. Bahkan, bisa jadi kata ‘gratis’ ini mengalahkan branding Anda yang keren.

Para user yang telah mengetahui apa yang hendak mereka beli cenderung tidak mencari halaman branding, termasuk logo perusahaan. EyeQuant mengaku bahwa banyak user yang justru mengabaikan branding di landing pages dan lebih straight to the point.

Memang studi EyeQuant hanya melibatkan 46 orang dimana jumlah ini memang tidak cukup besar sebagai sebuah sample.

Hanya saja, telah terdapat banyak studi sebelumnya tentang eye-tracking yang juga menjelaskan bagaimana orang-orang melihat website, telah menunjukkan bahwa mereka yang berbelanja sesuatu yang spesifik, melihat dengan cara yang sedikit berbeda.

Data-data yang mereka peroleh telah membuktikan tentang hal tersebut. Karenanya, hal tersebut cukup mampu untuk membuat mereka yakin bahwa kreatifitas manusia dalam menata website yang cantik dan artistic saja tidaklah cukup untuk menarik perhatian para pengunjung website.

Sumber: fastcodesign

Leave a reply "Apa yang Sebenarnya Orang Lihat Ketika Berbelanja Online?"

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*