Ini Alasan Alibaba Akuisisi Lazada dan Efek Terhadap Ekosistem Startup di Asia Tenggara
Lazada adalah sebuah situs e-commerce yang dibentuk pertama kali tahun 2012 oleh Alexander Samwer, Marc Samwer, dan Oliver Samwer. Mereka merupakan tiga saudara yang ada di belakang Rocket Internet.

Lazada dikenal sebagai kloning dari e-commerce raksasa di negara Amerika, yaitu Amazon. Beberapa negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand menjadi basis operasi Lazada saat Lazada pertama kali diluncurkan.

Dikutip dari Tech in Asia, banyaknya kucuran investasi yang di dapat oleh Lazada setiap tahun ini membuat Lazada mampu untuk terus berkembang.

Dimulai pada bulan September tahun 2012, Lazada mendapat investasi dari JP Morgan. Besarnya investasi tersebut dirumorkan lebih dari US$ 50 juta atau sekitar 657 milyar rupiah.

Pada bulan November 2012, Lazada kembali mendapat investasi sebesar US$ 40 juta atau skeitar 526 milyar dari Kinnevik. Kinnevik merupakan perusahaan ritel dari Swedia.

Satu bulan kemudian, Lazada kembali mendapat investasi dari Summit Partners sebesar US$ 26 juta atau sekitar 328 milyar rupiah. Summit Partners adalah sebuah perusahaan ekuitas swasta di Jerman.

Kucuran dana ini seklaigus menjadi penutup dari putara investasi yang diterimala oleh Lazada pada tahun 2012.

Awal tahun 2013, Lazada kembali mendapat investasi dari Tengelmann sebesar US$ 20 juta atau sekitar 263 milyar rupiah. Tengelmann ini adalah sebuah perusahaan ventura di Jerman.

Dengan ini, Lazada bisa memperkuat bisnis mereka sehingga Lazada bisa memberikan garansi layanan pengiriman selama dua hari.

Tidak berhenti sampai disitu, pada bulan Juni tahun 2013 Lazada mendapat investasi yang besar yaitu US$ 100 juta atau sekitar 1,3 triliun rupiah. Dengan ini, akhirnya Lazada bisa merilis aplikasi mobile untuk Android dan iOS.

Kemudian, akhir tahun 2013 Lazada mendapat investasi sebesar US$ 250 juta atau sekitar 3,2 triliun rupiah. Investasi ini Lazada dapat Tesco PLC, Access Industries, dan investor-investor sebelumnya.

Dengan semua investasi ini, Lazada akhirnya memutuskan untuk membuka kantor di Singapura pada bulan Mei 2014 untuk memperluas cakupan mereka.

Masih di tahun yang sama, pada bulan November, modal ventura milik pemeritah negara Singapura, Temasek memberikan dana sebesar US$ 250 juta atau sekitar 3,2 triliun rupiah pada Lazada. Ini merupakan investasi terbesar di Asia Tenggara untuk sebuah startup teknologi pada saat itu.

Namun, dengan total investasi yang mencapai US$ 686 juta atau sekitar 9 triliun rupiah yang diterima oleh Lazada ini bukan berarti Lazada tidak kehilangan banyak uang. Pada tahun 2014, ada lebih dari 4.000 karyawan yang bekerja di bawah naungan Lazada di Asia Tenggara.

Hal ini dikarenakan Lazada memiliki banyak gudang untuk menyimpan produk-produk yang mereka jual. Bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan oleh Lazada untuk memberi gaji para karyawan ini.

Rocket Internet, melaporkan bahwa Lazada mengalami kerugian operasional yang besar pada tahun 2014. Kerugian mereka mencapai US$ 152,2 juta atau sekitar 2 triliun rupiah.

Jumlah ini berarti dua kali lipat dari total kerugian yang diperoleh pada tahun 2013 yang mencapai US$ 67 juta atau sekitar 881 milyar rupiah.

Sebenarnya, pada tahun 2014 Lazada berhasil memperoleh pemasukan sebesar US$ 154,3 juta atau sekitar 2 triliun. Namun, jumlah tersebut sama dengan jumlah kerugian operasional mereka.

Pada 2015, Lazada mendapat US$ 275 juta atau sekitar 2 triliun rupiah untuk pendapatan bersih mereka. Akan tetapi, angka tersebut harus dibayar Lazada dengan besarnya kerugian operasional Lazada.

Tahun 2015, kerugian operasional Lazada mencapai US$ 334 juta atau sekitar 4,3 triliun. Dua kali lebih banyak daripada tahun sebelumnya bahkan melebihi total pendapatan bersih.

Walaupun demikian, hal ini selaras dengan pertumbuhan performa dari Lazada. Nilai total transaksi Lazada pada 2015 bisa mencapai US$ 1 milyar atau sekitar 13,1 triliun rupiah. Tiga kali lipat dari pencapaian Lazada pada tahun 2014.

Lalu, mengapa Alibaba memutuskan untuk mengakuisisi Lazada?

Saat ini Alibaba sudah mengakuisisi Lazada sebesar US$ 1 milyar atau sekitar 13,1 triliun rupiah. Dana sebesar US$ 1 Milyar itu terbagi dua yaitu US$ 500 juta atau sekitar 6,5 triliun rupiah untuk membeli sebagian besar saham dari Lazada.

Pada saat itu Lazada mempunyai nilai valuasi sebesar US$ 1,5 milyar atau sekitar 1,9 triliun rupiah.

Sisa dari investasi Alibaba pada Lazada tersebut kemudian dijadikan sebagai investasi baru bagi Lazada.

Dengan demikian Lazada mempunyai valuasi post-money (nilai valuasi setelah mendapat investasi) baru sebesar US$ 2 milyar atau sekitar 2,6 triliun rupiah. Nilai-nilai ini bahkan sudah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak Rocket Internet.

Pada tahun 2014, nilai valuasi post-money yang dimiliki oleh Lazada adalah US$ 1,2 milyar atau sekitar 1,2 triliun rupiah.

Ternyata, akuisisi ini terjadi karena adanya peran serta dari sang investor yang secara tidak langsung telah “menjodohkan” Alibaba dan Lazada. Temasek yang merupakan modal ventura dari pemerintah Singapura ini merupakan investor untuk dua perusahaan ini.

Alibaba pernah mendapat investasi sebesar US$ 37 juta atau sekitar 486 milyar rupiah dari Temasek pada tahun 2011. Tiga tahun kemudian, Temasek memberikan kucuran dana juga untuk Lazada.

Faktor lainnya adalah, saat itu Lazada sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit dan menegangkan karena sudah hampir kehabisan dana untuk tetap bisa beroperasi.

Akhirnya pada bulan Januari Lazada dan Alibaba menandatangani sebuah perjanjian kontrak dengan proses due-diligence (proses analisis sebauh perusahaan). Setiap investor awal, co-founder, dan juga tim manajemen Lazada memiliki pilihan untuk menjual 43,83% saham mereka.

Tetapi, Temasek memiliki pilihan untuk tidak menjual sahamnya. Selain itu, bagi setiap staf yang menjual 48,83% saham mereka pada Alibaba, mereka akan diberikan pilihan “four-golden handcuff period”. Artinya, mereka akan mendapat gaji yang lebih besar jika mereka tetap bekerja disana.

Akuisisi ini telah membuktikan pada AS dan investor lainnya bahwa wilayah dengan jumlah penduduk lebih dari 600 juta orang inimemiliki potensi yang sangat besar.

Ini merupakan suatu bukti bahwa perusahaan-perusahaan di negara Cina memiliki minat untuk masuk dan melakukan investasi di Asia Tenggara. Semakin banyak celah untuk mendirikan sebuah startup teknologi yang lebih banyak lagi di kawasan ini.

Leave a reply "Ini Alasan Alibaba Akuisisi Lazada dan Efek Terhadap Ekosistem Startup di Asia Tenggara"

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*